Jumat, 06 Mei 2016

Tehnik Humor Dalam Khitobah




BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Kita sering mendengar ceramah ustadz humoris. Ia menyampaikan joke, cerita lucu, atau humor dalam ceramahnya. Namun, tidak jarang cerita lucu atau humor penceramah itu cerita rekaan. Padahal, Islam melarang umatnya agar jangan menyampaikan cerita bohong.
"Celaka bagi orang yang bercerita kepada satu kaum tentang kisah bohong dengan maksud agar mereka tertawa. Celakalah dia...celaka dia." (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Coba saja simak cerita-cerita yang disampaikan sang ustadz. Banyak yang karangan, rekaan, alias bohong. Kita yakin, sebagai ustadz, ia tahu hadits shahih di atas. Namun, demi menghibur jamaah, ia langgar larangan Nabi Saw tersebut.
Humor dalam ceramah tidak mesti dengan sampaikan cerita bohong. Ada teknik humor dalam public speaking, misalnya "teori belokan mendadak" atau "plesetan". Tidak mesti  dengan berbohong.
Inti larangan Nabi Saw adalah jangan berdusta, sekalipun dimaksudkan untuk melucu atau menambah bumbu humor dalam ceramah. Lagi pula, seringnya jamaah justru hanya mengingat humor itu ketimbang substansi atau materi tausiyah sang penceramah. 
Dakwah memang harus mengasyikkan, tidak terlalu serius. Namun, tidak mesti pula berbohong agar lucu dan menjadi "favorit" jamaah. Kebanyakan da'i, penceramah, atau ustadz menjadi favorit karena lucunya, bukan karena kualitas materi ceramah atau kualitas sang da'i.

  1. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Khotbah ?
2.      Apa humor itu ?
3.      Bagaimana tehbik humoer dalam berkhotbah ?










BAB II
PEMBAHASAN

  1. Pengertian Khotbah

Secara etimologis (harfiyah), khuthbah artinya : pidato, nasihat, pesan (taushiyah). Sedangkan menurut terminologi Islam (istilah syara’); khotbah (Jum’at) ialah pidato yang disampaikan oleh seorang khatib di depan jama’ah sebelum shalat Jum’at dilaksanakan dengan syarat-syarat dan rukun tertentu, baik berupa tadzkiroh (peringatan, penyadaran), mau’idzoh (pembelajaran) maupun taushiyah (nasehat). Berdasarkan pengertian di atas, maka khotbah adalah pidato normatif, karena selain merupakan bagian dari shalat Jum’at juga memerlukan persiapan yang lebih matang, penguasaan bahan dan metodologi yang mampu memikat perhatian.
Selain khotbah Jum’at, ada pula khotbah yang dilaksanakan sesudah sholat, yaitu: khotbah ‘Idul Fitri, ‘Idul Adha, khotbah sholat Gerhana (Kusuf dan Khusuf). Sedangkan khotbah nikah dilaksanakan sebelum akad nikah.
Khotbah mempunyai arti yaitu memberi nasihat. Sayangnya, media ini terkadang kurang dimanfaatkan secara optimal. Para khathib seringkali menyampaikan khotbah yang membosankan yang berputar-putar dan itu-itu saja. Akibatnya, banyak para hadirin yang terkantuk-kantuk dan bahkan tertidur. 
Adapun sudut pandang yang lain Khotbah adalah salah satu cara yang dipakai untuk mengkomunikasikan pesan. Dalam tradisi Kristen, pesan ini didasarkan pada apa yang tertulis di dalam Alkitab atau yang biasa disebut kabar baik. Dalam bahasa Yunani, kabar baik ini disebut Yunani eungalion. Alkitab sebagai sumber pemberitaan Firman Tuhan melalui proses. Sehingga khotbah yang disampaikan bukan pemikiran subjektif si pengkhotbah. Pesan dari teks Alkitab itu yang menjadi inti khotbah.
Pesan yang diberitakan itu di dalam bahasa Yunani disebut Kerygma.Kerygma merupakan pesan dari teks Alkitab yang telah ditafsirkan sebelumnya. Cara mengkomunikasikan khotbah juga berbeda dengan cara komunikasi yang lain. Khotbah di Bukit merupakan salah satu contoh khotbah yang dilakukan oleh Yesus. [1] Khotbah di Bukit juga menjadi salah satu rujukan di dalam etika Perjanjian Baru. Yesus di dalam pemberitaan-Nya tersebut berisi tentang Kerajaan Allah yang akan datang. Khotbah itu pun berisi panggilan atau seruan Yesus kepada setiap orang untuk bertobat. Selain Yesus, tokoh yang terkenal dengan khotbahnya di dalam Perjanjian Baru adalah Paulus. Pemberitaan berita kesukaan dari Paulus terpusat pada kematian dan kebangkitan Kristus menurut Kitab Suci. Di dalam berkhotbah ada cara-cara tertentu di dalam ilmu berkhotbah. Ilmu Khotbah juga dikenal dengan istilah homiletika. Homiletika merupakan alat yang harus dikuasai oleh seorang pengkhotbah. Di dalam penyusunan khotbah juga diperlukan proses hermeneutik. Proses Hermeneutik ini membantu pengkhotbah dalam menafsir teks sehingga kontekstual.
Khotbah memiliki funsi yang bersifat pendidikan, sosial, etis, dan politis. Pengkhotbah memberikan pengetahuan, cara beribadah, dan norma yang bersifat sosial dan etis di dalam sebuah komunitas. Pengkhotbah, yang juga dipahami sebagai seorang guru, menjadi pemimpin di dalam ibadah, pengajar di dalam peraturan etis, dan guru spiritual di dalm komunitasnya. Khotbah sangat erat kaitannya dengan fungsinya sebagai pengajaran. Di dalam Agama, khotbah menjadi alat seorang pemimpin dalam mengajar umat. Khotbah pun membantu umat manusia dalam memahami kehendak Allah. Al-Qur’an yang menjadi inti dari pengajaran ini.
Secara umum, sistematika khotbah dapat dibagi sebagai berikut:
1.      Pendahuluan
Bagian ini berisi latar belakang teks. Pendahuluan sebuah khotbah memiliki fungsi untuk membawa pendengar menuju pesan atau inti khotbah yang hendak disampaikan. Pendahuluan yang disampaikan ini disajikan dengan bahasa yang sederhana dan mengungkapkan sedikit permasalahan.
2.      Isi
Isi khotbah adalah bagian yang sentral dari struktur khotbah. Pada bagian ini, yang disampaikan adalah Firman Allah SWT. atau kerygma dari sebuah teks Alkitab. Bagian ini membutuhkan waktu yang panjang dalam mempersiapkannya. Isi sebuah khotbah harus melewati proses penafsiran.
3.      Penutup
Bagian terakhir adalah penutup khotbah. Kesimpulan dari isi atau pesan dari khotbah disampaikan pada bagian ini. Hal ini mempermudah pendengar dalam menarik pesan dari nas khotbah. Pada bagian ini, aplikasi yang menjadi penekanan. Pendengar pun dapat dengan mudah memahami pesan yang hendak disampaikan. Aplikasi yang relevan dengan kehidupan pendengar akan lebih membuat pendengar memahami khotbah yang disampaikan. Bagian ini juga dapat diisi dengan sebuah ilustrai.
B.     Humor
Tertawa adalah sebuah cara hebat dalam memberikan istirahat sejenak para pendengar dari ceramah yang serius. Dampak positif lainnya humor akan membuat pembicaraan Anda lebih menyenangkan. Humor berfungsi melibatkan para pendengar Anda. Humor membuat para pendengar Anda merasa dekat, merasa terlibat. Mereka pun siap belajar
Fungsi humor sendiri dalam khitobah ataupun berpidato adalah sebagai berikut:
1. Membangun rasa saling pengertian dengan para pendengar.
Orang menyukai pribadi yang membuat mereka tertawa. Jika lelucon Anda tidak menyinggung perasaan, tepat, dan lucu, kemungkinan besar Anda telah mendapatkan teman baru. Begitu Anda menjalin saling pengertian dengan pendengar, mereka lebih mudah menerima pesan Anda. Dan karenanya pula humor akan …
2. Menjaga pendengar Anda dari kejenuhan.
Sangat mustahil Anda merasa bosan saat sedang dihibur, kecuali bila hiburannya cukup jelek. Tertawa adalah sebuah cara hebat dalam memberikan istirahat sejenak para pendengar dari ceramah yang serius. Dampak positif lainnya humor akan membuat pembicaraan Anda lebih menyenangkan. Apakah Anda lebih suka untuk mendengarkan materi ceramah yang datar dan membosankan, atau Anda lebih suka untuk lebih sering tertawa sepanjang ceramah?
Kita belajar dengan lebih baik ketika kita menikmatinya. Telah berlalu waktu di mana ceramah hanya untuk mendidik para pendengar. Pendidikan semata bisa menggoda pendengar Anda untuk tidur; pendidikan plus hiburan memberi Anda peluang lebih besar untuk merangkul pendengar. Humor berfungsi melibatkan para pendengar Anda. Humor membuat para pendengar Anda merasa dekat, merasa terlibat. Mereka pun siap belajar. Maka tidak mengherankan bila humor …
3. Memungkinkan para pendengar Anda mengingat informasi lebih lamaa.
Karena orang lebih mudah lupa akan fakta dan angka, dan lebih mudah ingat akan hal-hal yang menyentuh perasaan mereka, maka humor menjadi ’tangan kanan’ Anda dalam melakukannya. Kita mengingat sebuah pesan ketika kita mengingat kembali apa yang membuat kita merasa emosional, sesuatu yang bisa membuat kita tertawa. Masih sering saya jumpai alumni dari pelatihan kami yang setelah sekian lama masih mengingat kisah yang pernah mereka dengar dari kami, dan tentunya masih mengerti akan pesan ceritanya.
Humor merangsang sisi kanan dan sisi kiri otak kita, sehingga meningkatkan peluang bagi pendengar Anda untuk mengingat isi ceramah Anda dalam waktu yang lebih lama. Karena sesuatu yang lucu itu tidak terduga, humor membuat pikiran para pendengar bekerja. Kita –utamanya pendengar– berjalan dari sesuatu yang sudah kita ketahui dan sudah kita duga menuju ke sesuatu yang tidak kita ketahui dan kita duga sebelumnya. Dalam prosesnya, para pendengar mempelajari cara baru dalam melihat, mendengar, dan memproses pesan yang mungkin telah akrab dengan mereka. Seolah-olah para pendengar menemukan sebuah gambar baru yang sebetulnya adalah gambar lama dengan bingkai yang baru. Seringkali proses ”AHA” muncul ketika kita berada dalam perasaan gembira, dan humor mampu memicu hal itu. Selain itu humor akan …
4. Menghentikan lamunan, menyegarkan suasana, dan membantu Anda menyusupkan pesan.
Bukan hal yang mudah dalam mendapatkan perhatian orang lain ketika Anda pertama kali memulai pembicaraan. Orang-orang memikirkan hal lain, mereka melamun, mereka berbicara dengan orang-orang di sebelahnya, mereka bertanya-tanya dalam hati tentang menu makan siang setelah seminar Anda. Pikiran dan perasaan mereka berada di tempat dan waktu yang lain. Cerita, kutipan, gurauan, foto, atau video klip yang penuh humor merupakan cara efektif dalam mengundang pendengar Anda untuk berpartisipasi dalam ceramah Anda. Itu menghentikan sejenak lamunan yang sedang berlangsung, dan menciptakan peluang bagi Anda untuk mengambil-alih kendali atas kondisi ceramah Anda. Itu pula yang menggantikan teriakan ”Toloong, perhatikan saya sebentar!”
Ketika para pendengar tertawa, pikiran mereka terbuka dan mereka pun siap menerima pesan Anda. Anda kini lebih leluasa menyusupkan pesan Anda dan bahkan para pendengar Anda mungkin tidak sadar bahwa mereka telah menerima pesan Anda.
Sebagaimana bumbu dalam masakan, bijak-lah dalam menggunakan humor dalam pembicaraan kita. Gunakan seperlunya, sesuai dosis dan tujuannya.
  1. Tehnik Humor dalam Khitobah
Beberapa orang di karuniai bakat dalam hal melucu. Orang-orang yang begitu sebaiknya sering menggunakan humor dalam pidatonya. Tentunya hunor yang masih sedikit berhubungan. Tapi bila kita tidak bisa menggunakan humor, karena kurang berbakat  biasanya. Maka janganlah kita terlalu sering menggunakannya.
Ketika kita membahas perlunya keputusan, maka saya menceritakan bahwa jika kita ingin menggunakan humor, maka haruslah humor yang sedikit berhubungan dengan apa yang kita ceritakan. Jika kita menceritakan humor hanya agar para pendengar tertawa, tidak akan ada gunanya. Oleh karena itu ceritakanlah humor-humor yang berhubungan dengan apa yang ingin anda sampaikan.dan anda akan mendapat manfaat dari padanya,
Misalnya aja anda ingin menyindir seorang pendengar yang kurang simpatik, maka anda bisa menceritakannya kisah seperti di bawah ini: Seorang gadis yang ingin menjadi biarawati masuk ke sebuah biara dimana ia hanya boleh berkata dua kata setiap akhir tahun. Pada akhir semester  yang pertama, dia mendstangi ibu biara tersebut. Ibu baira menyapanya “ada apa anakku ?” calon biarawati tersebut kemudian memilih dua kata dengan sangat berhati-hati, ahirnya dia berkata, “makanan buruk” kemudian semester berikutnya, ketika dia menghadap ibu biara,dia di sapa dengan pertanyaan yag sama. Kali ini, dia memilih untuk mengatakan, “saya berhenti” mendengar perkataan tersebut, ibu biara menjawab, “bagus kalau begitu, angkau selalu mengeluh saja semenjak berada di sini” nah, ibubiara ini adalah seorang pendengar yang tidak simpatik.

BAB III PENUTUP
  1. Kesimpulan
Secara etimologis (harfiyah), khuthbah artinya : pidato, nasihat, pesan (taushiyah). Sedangkan menurut terminologi Islam (istilah syara’); khotbah (Jum’at) ialah pidato yang disampaikan oleh seorang khatib di depan jama’ah sebelum shalat Jum’at dilaksanakan dengan syarat-syarat dan rukun tertentu, baik berupa tadzkiroh (peringatan, penyadaran), mau’idzoh (pembelajaran) maupun taushiyah (nasehat). Berdasarkan pengertian di atas, maka khotbah adalah pidato normatif, karena selain merupakan bagian dari shalat Jum’at juga memerlukan persiapan yang lebih matang, penguasaan bahan dan metodologi yang mampu memikat perhatian. Adapun sudut pandang yang lain Khotbah adalah salah satu cara yang dipakai untuk mengkomunikasikan pesan.
 sistematika khotbah dapat dibagi sebagai berikut:
1.      Pembukaa
2.      Isi
3.      Penutup
Tertawa/humor adalah sebuah cara hebat dalam memberikan istirahat sejenak para pendengar dari ceramah yang serius. Dampak positif lainnya humor akan membuat pembicaraan Anda lebih menyenangkan. Humor berfungsi melibatkan para pendengar Anda.
Fungsi humor sendiri dalam khitobah ataupun berpidato adalah sebagai berikut:
1.      Membangun rasa saling pengertian dengan para pendengar.
2.      Menjaga pendengar Anda dari kejenuhan.
3.      Memungkinkan para pendengar Anda mengingat informasi lebih lamaa.
4.      Menghentikan lamunan, menyegarkan suasana, dan membantu Anda menyusupkan pesan.
Orang-orang yang memiliki bakat melucu/humoris sebaiknya sering menggunakan humor dalam pidatonya. Tentunya hunor yang masih sedikit berhubungan. Tapi bila kita tidak bisa menggunakan humor, karena kurang berbakat  biasanya. Maka janganlah kita terlalu sering menggunakannya.

DAFTAR PUSTAKA

William J.1986.TEKIK BERPIDATO.Bandung.PIONIR_Jaya

MAKALAH METODOLOGI DAKWAH “TUJUAN DAKWAH”




MAKALAH METODOLOGI DAKWAH
“TUJUAN DAKWAH”
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Metodologi Dakwah
Dosen Pembimbing:
Drs. H. Bustanul Arifin M.Pd.I,

Disusun Oleh :
                                                            Abdurrohman AS

INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT) KEDIRI
FAKULTAS DA'WAH
PRODI  KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM (KPI)
Masa Khidmad : 2014-2015


KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa saya ucapkan kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi pembaca dan umumnya bagi teman-teman semua. Amin…




Kediri, 17 Desember 2013
                                                                                                                                            
                                                                                                                                    Penulis







DAFTAR ISI

  1. Halaman judul ……………………………………………………………    01
  2. Kata pengantar …………………………………………………………….  02
  3. Daftar isi …………………………………………………………………..  03
  4. Bab 1: Pendahuluan
A.    Latar belakang ………………………………………………………… 04
B.     Rumusan masalah …………………………………………………….   04
  1. Bab 2: Pembahasan
A.    Tujuan dakwah ………………………………………………………..  05
B.     Tahapan dan tingkatan dakwah ……………………………………….  07
  1. Bab 3: Penutup
A.    Kesimpulan ……………………………………………………………  09
B.     Pesan dan saran ……………………………………………………….   09
  1. Daftar pustaka …………………………………………………………….. 10











BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Dilihat secara praktek, di zaman Rasulullah SAW dakwah bil hal sebenarnya telah dilaksanakan. Materi dan metode Nabi tidak terbatas hanya masalah aqidah dan ibadah dengan cara khutbah dan tabligh, akan tetapi meluas meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, misalnya upaya Nabi membangun umat yang benar – benar baru dan berbeda dari masyarakat jahiliyah sebelumnya. Selain itu, sunnah nabi ada yang dinamakan dengan sunnah fi’liyah, ini membuktikan bahwa di zaman nabi sudah ada dakwah bil hal.
Selain itu di tanah air ini, di zaman orde baru sejak akhir Pelita III, Ditjen Bimas Islam dan urusan Haji, Direktorat penerangan agama islam memperkenalkan istilah “Dakwah pembangunan” disamping dakwah bil lisan. Gagasan ini kemudian berkembang menjadi dakwah bil hal.
Metode-metode tersebut memiliki makna dan tujuan-tujuan masing-masing. Terkadang tak sedikit dari para Da’i tersebut yang belum mengetahui pasti dari tujuan dakwah itu sendiri. Di sini mari kita bahas bersama-sama tujuan dati dakwah menurut para tokoh dakwah Islam.
  1. Rumusan Masalah
1.   Tujuan dakwah menurut Abul A’la Al Maudadi dan H.A Solaiman.
2.   Tahapan-tahapan dakwah serta tingkatan-tingkatannya.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Tujuan dakwah
Menurut Abul A’la Al Maudadi ada 3 tujuan dakwah, yaitu:
1.      Dakwah di tujukan kepada seluruh umatmanusia, umat Islam khususnya, agar menyembah Alloh, tidak mensyariatkan dengan sesuatu, dan; tidak akan menyembah Tuhan selain Alloh.
2.      Dakwah di tujukan kpada orang yang bersedia menjadikan Islam sebagai agamanya, memurnikan keyakinannya hanya mengakui Alloh sebagai Tuhannya, membersihkan jiwanya dari penyakit nifak, dan selalu menjaga amal perbuatannya agaar tidak bertentangan dengan ajaran agama (Islam) yang di anutnya.
3.      Dakwah di tujukan kpada seluruh penduduk bumi untuk merubah sistem pemrintahan zalim, yang di pimpin oleh orang zalim yang hanya berbuat kerusakan di permukaan bumi, memindahkan kepmimpinan baik secara teoritis maupun praktis dari tangan mereka kepada tangan yang briman kepada Alloh dan hari akhirat serta menjalankan ajaran agamanya dengan baik, serta tidak berlaku sombong.
H.A Solaiman menjelaskan bahwa tujuan dakwah bisa di bagi 2 tujuanutama, yakni tujuan kurikuler dan tujuan final.
1.    Tujuan kurikuler mengandung konsep teoritis untuk mencapai target sasaran dakwah scara beertahap sampai batas final. Tujuan kulikuler ini mengandung dua sub tujuan yaitu:
a.       Menghidupkan fitrah hati dari kmungkinan kelumpuhan dn kematianya akibatfplosi mental yang meraypi dan merusak dirinya, sehingga fitrah dan hatinya kembalimemiliki daya tangkap benar dalam membedakan mana yang hak dan batil, ma’ruf dan mungkar, manfaat dan mafsadat; dan memiliki kembali daya tindak untuk hanya berbuan di atas yang haq, ma’ruf dan manfaat serta mempunyai daya kesanggupan untuk meninggalkan segala perbuatan yang batil, mungkar dan mafsadat.
b.      Amar ma’ruf nahi mungkar. Kehidupan manusia berada dalam wilayahnya masing masing. Sebagian berada pada wilayah yang ma’ruf dan sebagian lagi berada pada wilayah munkar. Menghadapi masyarakat ini kita mempunyai target sasaran sebagai berikut:
·         Mengembangkan manusia yang sudah berada pada posisi amar ma’ruf supaya lebih meningkat nilai-nilai ma’rufnya, ban menjaga supaya melindunginya jangan sampai bergeser pada posisi yang mungkar.
·         Membawa lingkup hidup manusia yang berada pada posisi mungkar pada posisi yang ma’ruf.
·         Meyakinkan mereka yang ragu-ragu, betapa yang ma’ruf itu dengan segala pengaruhnya yang konstruktif, dan yang munkar itu dengan segala pengaruhnya yang destruktif, kemudian membawanya secermat mungkin mereka itu kepada lingkup yang ma’ruf dan mengamankannya dari gangguan wilayah munkar.
2)   Tujuan final merupakan tujuan akhir yang akan dicapai, yaitu ajaran Islam menjadi sikap sehari-hari dalam kehidupan pemeluknya yang dilandasi oleh iman yang kokoh dan dilatar belakangi oleh harapan mendapat keridlaan Allah.
Bentuk dakwah dpat dikategorikan dalam dua jenis:
1.         secara fisik
2.         secara teknis
Secara fisik dapat dilakukan dengan dua cara:
1.      perorangan dan
2.      bersama-sama (organisasi/lembaga, baik formal maupun non formal).
Sedangkan secara teknik merupakan tatacara penyampaian atau pelaksanaan dakwah itu dilakukan. Secara umum dakwah dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
1.      dengan perbuatan (tindakan/hukuman),
2.      dengan cara lisan (teguran/nasihat),
3.      dengan perasaan (tidak suka/benci).
            Sedangkan secara lebih luas dakwah dapat dilakukan dengan beberapa cara/teknis, yaitu:
1.      Lisan, misalnya dengan cara khutbah, ceramah, pidato, diskusi, musyawarah, dan seterusnya.
2.      Tulisan, misalnya melalui surat kabar, majalah, buletin, pamflet, spanduk, dan seterusnya.
3.      Tindakan/perbuatan, misalnya memberi penghargaan, hukuman, member bantuan mater, dan sebagainya.
4.      Peraturan, misalnya melalui kebijakan, peraturan, undang-undang, daan sebagainya.
5.      Seni dan budaya, misalnya melalui seni rupa, seni musik, seni sastra, teater, fashion show, pagelaran, dan sebagainya.
6.      Multimedia, misalnya melalui radio, televisi, CD, VCD, CD room, komputer, internet, dan sebagainya.
7.      Dengan melalui bentuk-bentuk dakwah lain yang sesuai dengan syari’at Islam.

B.      Tahapan dan Tingkatan Dakwah
Berdakwah dimulai dari tahap lingkup yang paling bawah dan paling dekat yaitu diri sendiri. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah yaitu “Ibda’ binafsika”(mulailah dari diri sendiri). Setelah itu diteruskan dengan tahap kedua yaitu keluarga. Setelah itu kerabat atau sanak saudara. Kemudian tetangga sekitar rumah, lalu meluas kepada masyarakat sekitar bahkan lebih luas dari itu, yakni masyarakat dunia atau internasional.
            Tahapan dakwah seperti itu sudah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. sejak beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul oleh Allah SWT. Dengan demikian apabila diurutkan tahapan lingkup dakwah itu adalah sebagai  berikut:
1)      Diri sendiri
2)      Keluarga
3)      Kerabat/sanak saudara
4)      Tetangga
5)      Masyarakat sekitar
6)      Masyarakat luas

Sedangkan tingkatan dakwah menurut Imam Al Ghazali, yaitu:
1)      Memberitahu.
2)      Menasihati.
3)      Bersikap keras dalam perkataan, kemudian mencegah dengan paksaan.

Tingkatan dakwah lain dijelaskan oleh Fathi Yakan dalam kitabnya Kaifa Nad’uu ilal Islam yaitu:
1)      Berkenalan dengan objek dakwah.
2)      Sampaikan dakwah yang mudah dimengerti dan disesuaikan dengan taraf kecerdasannya.
3)      Menggunakan sistematika yang standar:
a.       Pembentukan akidah/keimanan.
b.      Dari iman menuju amal.
c.       Dari amal menjadi kebiasaan.

























BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut dapat di simppulkan bahwa Menurut Abul A’la Al Maudadi ada 3 tujuan dakwah, yaitu:
1.      Dakwah di tujukan kepada seluruh umatmanusia agar menyembah Alloh,
2.      Dakwah di tujukan kpada orang yang bersedia menjadikan Islam sebagai agamanya,
3.      Dakwah di tujukan kpada seluruh penduduk bumi untuk merubah sistem pemerintahan yang zalim menuju pemerintahan yang bijaksana,
Sedangkan H.A Solaiman menjelaskan bahwa tujuan dakwah bisa di bagi 2 tujuan utama, yakni tujuan kurikuler dan tujuan final. Tujuan kurikuler mengandung konsep teoritis untuk mencapai target sasaran dakwah scara bertahap sampai batas final. Sedangkan tujuan final merupakan tujuan akhir yang akan dicapai, yaitu ajaran Islam menjadi sikap sehari-hari dalam kehidupan pemeluknya yang dilandasi oleh iman yang kokoh dan dilatar belakangi oleh harapan mendapat keridlaan Allah.
Berdakwah dimulai dari tahap lingkup yang paling bawah dan paling dekat yaitu diri sendiri. Tahap kedua yaitu keluarga. Setelah itu kerabat atau sanak saudara. Kemudian tetangga sekitar rumah, lalu meluas kepada masyarakat sekitar bahkan lebih luas dari itu, yakni masyarakat dunia atau internasional.
Sedangkan tingkatan dakwah berkenalan dengan objek dakwah. Sampaikan dakwah yang mudah dimengerti dan disesuaikan dengan taraf kecerdasannya. Menggunakan sistematika yang standar:
d.      Pembentukan akidah/keimanan.
e.       Dari iman menuju amal sholeh.
f.       Dari amal sholeh  menjadi kebiasaan.(pencegahan amal buruk).

B.     Kritik /Saran
Demikianlah penulisan makalah ini, dalam hal ini kami akhiri makalah ini. Tak lupa mohon maaf kepada semua pihak. Sebagai manusia biasa, kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangaun sangat kami harapkan untuk kesempurnaan makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA


Materi dari pak Drs. H. Bustanul Arifin M.Pd.I